Yusril Ihza Mahendra:Andai Bung Karno dan Pak Natsir Masih Hidup, Beliau Berdua Mungkin Akan Terheran-Heran


Jakarta,-Sekarang kita hampir tak lagi melihat perbedaan ideologis yang tajam antar parpol yang ada sebagaimana terjadi dulu pada partai politik di era pasca Proklamasi Kemerdekaan hingga berakhirnya Orde Lama. Dulu partai-partai terbelah antara partai-partai Nasionalis (Sekular), Islam dan Marxis.


Kini, partai politik yang resminya berideologi nasionalis juga memperlihatkan kepeduliannya kepada Islam. Nasionalisme tidak lagi sekular, karena memandang agama memainkan peranan penting dalam membangun semangat kebangsaan. Partai politik yang berideologi Islam pun juga menerima nasionalisme sebagai sebuah keniscayaan. Mereka tidak melihat Islam dan Nasionalisme sebagai dua hal yang bertentangan. 


Sebelum merdeka ada polemik antara Bung Karno dan Pak Natsir tentang "penyatuan agama dengan negara" yang sempat membagi perpolitikan kita menjadi dua kutub Nasionalis sekular dan Islam. Kini kedua kubu ideologis itu seakan telah menyatu.

Demikian antara lain saya sampaikan dalam kuliah di depan kelas Program Studi Pascasarjana Fakultas Hukum UI di Kampus Depok, Rabu (8/10) pagi.


Proses menuju titik temu (konvergensi) ideologis itu terus berlanjut hingga sekarang. 


Saya membayangkan, andai Bung Karno dan Pak Natsir masih hidup, beliau berdua mungkin akan terheran-heran bagaimana dulu bisa terjebak dalam dikotomi nasionalis dan Islam yang begitu keras.

Posting Komentar

0 Komentar